Si Jalang #CerpenHarian

Perkenalkan namaku Aisya. Panggil saja Ai. Aku adalah seorang muslim namun belum taat dalam beragama —Untuk itu salahkan aku. Jangan agamaku. Agamaku tak salah. Hanya saja aku yang belum sepenuhnya memahaminya. Bodoh memang—   Boleh semua orang menyebutku jalang. Terus terang saja, aku bukanlah wanita baik - baik seperti yang di harapkan ke dua orang tua ku ketika mereka memberiku nama. Memang aku begini adanya, jalang. Tak pantas buat lelaki mana pun. Tak pantas untuk menjadi anak dari kedua orang tua ku.
Memang benar aku jalang. Tapi aku tak sejalang yang kalian pikirkan. Aku bukan wanita yang haus nafsu, atau pun wanita yang menjual keperawanan demi uang. Aku bukan lah seorang psk yang dapat di "pakai" sesuka hati pria. Perlu kalian ketahui sampai saat ini pun aku masih perawan. Dan belum pernah merasakan euforia dalam bercinta dalam bentuk apapun. Jangan di tanya tentang rasa nya bercinta, tentu aku tak tau. Brcumbu pun aku belum pernah melakukannya. Percaya atau tidak memang begitu kenyataan nya.
Tentu saja kalian bertanya, lalu kenapa mereka menyebutku jalang bukan? Ya, mereka menyebutku seperti itu karna aku merokok dan sedikit senang minum. Memang aku paham betul, lingkungan ku menolak dengan terhadap gaya hidupku. Perlu kalian ketahui aku di besarkan di daerah yang masing penduduknya taat beragama dan mempunyai pengetahuan agama yang baik. Sebut saja aku seperti tinggal di daerah santri atau lebih sering di sebut pesantren. Tapi tenang saja aku tidak akan melakukan hal hal yang ku suka tadi di lingkungan pesantren itu. Tentu aku tidak sebodoh itu. Aku melakukan semua hal tadi di luar pesanteren, tepatnya setelah aku keluar dari lingkungan rumah ku itu.
Sejak 3 tahun lalu. Ketika aku bertemu dengan seseorang yang membuat ku tersejumus dalam dunia rokok dan alkohol. Di situlah aku memulai perjalanan hidupku hingga saat ini. Lelaki itu, mengerti semua tentang ku. Dia hanya mengajari ku tentang rokok dan alkohol tidak dengan bercinta, karna dia tau aku dengan benar. Selama aku bersamanya, dia belum pernah melakukan apapun dengan ku atau pun memintaku melakukan hal hal tersebut bersamanya. Sebatas itu dia baik. Dia juga pemabuk, dia juga perokok berat, namun tak haus dengan nafsu seperti kebanyakan pria. Dia pun melakukan kewajiwan seorang muslim yaitu sholat 5 waktu. Hanya saja terkadang tidak genap 5 waktu, karna dia mabuk sholat pun terkadang di lewatkannya —Bodoh memang, sama sama bodohnya. Dalam dirinya mempunyai keyakinan bahwa seseorang boleh berlaku bangsatnya asal tau batas dirinya dan ingat dengan–Nya. Aku hargai pendapatnya, dan dia pun pernah bilang kepadaku "Hargailah perempuan, seperti kamu menghargai Ibumu" dia bilang begitu ke aku. Tentu saja aku menghargai ibuku. Tolol memang, aku kan perempuan kenapa dia bilang begitu ke aku, seharusnya dia bilang seperti itu kepada puluhan lelaki pecundang di luar sana. Itu lah hal hal yang aku suka darinya walaupun ia berlaku bangsat dia tetap tau batasan dirinya berlaku seperti itu. Masa masa itu adalah masa yang sangat ku kenang, sebelum dia pergi entah kemana meninggalkan ku seorang diri di bawah dunia yang gelap ini. Dia pergi meninggalkan sebuah pesan untuk ku "Biarkan kau di sebut jalang, tetap lah ingat ibadah, berdoa kepada-Nya agar di beri jalan yang lurus jangan berliku, kau ini perempuan, tak sepantasnya seperti aku" Dia memang bodoh, pergi begitu saja meninggalkan keseharian yang selalu ku ingat dan ku terapkan dalam hidupku hingga saat ini. Dan satu lagi, aku terpesona kepadanya karna dia sangat menghargai para perempuan di luar sana. Tentulah semua orang mempunyai lebih dan kurangnya termasuk dia.
Berkat si bangsat ini, sekarang aku sudah mengerti jalan mana yang harus ku tempuh dalam menjalani hidup di dunia ini. Aku memilih sisi jalan di antara hitam dan putih, yaitu abu abu, sama sepertinya. Aku si jalang, 23 Maret 2017.

Komentar

Postingan Populer